Sabtu, 31 Desember 2016

Indoesia Negara Agraris. Masihkah?

Indoesia Negara Agraris. Masihkah?

Pertanyaan itu menggelitik kita sebagai warga negara yang konon merupakan negara agraris. Setelah 70 tahun merdeka, lantas, masihkah Indonesia bercorak agraris? Negara agraris adalah negara yang sebagian besar pencaharian penduduknya adalah sebgai petani atau bercocok tanam.
Banyak kacamata yang bisa dipakai untuk melihat kecenderungan itu. Sebagian kalangan yang memandang dari sisi kemandirian pangan mengatakan Indonesia sulit untuk disebut negara agraris lagi karena kini tak sepenuhnya mampu memenuhi sendiri kebutuhan bahan pangan. Swasembada pangan sebagai salah satu tolok ukur yang sering dipakai untuk melihat ‘keagrarisan’ Indonesia masih saja terasa sulit digapai. Yang terjadi, impor justru kian merajalela untuk sebagian komoditas.
Namun, dari kacamata lain, jika mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang angkatan kerja di tiap sektor, Indonesia sebetulnya masih dapat dikatakan sebagai negara agraris. Setidaknya, masih ada lebih dari 30% angkatan kerja Indonesia bekerja di sektor pertanian. Meski demikian, BPS sendiri mulai mencium juga adanya peralihan angkatan kerja sektor pertanian ke sektor perdagangan. Itu bisa dilihat dari data terbaru yang mereka lansir di Jakarta, Rabu (4/5).
Pada Februari 2016, BPS mencatat 31,74% pekerja Indonesia atau 38,29 juta bekerja di sektor pertanian. Padahal, Februari tahun lalu jumlah pekerja di sektor itu masih mencapai 40,12 juta. Artinya, hampir 2 juta pekerja sektor pertanian beralih ke sektor lain hanya dalam setahun. Jika tren itu terus berlanjut, bukan tidak mungkin jumlah petani atau pekerja di sektor pertanian di Indonesia akan habis dalam 20 tahun yang akan datang.

Ini merupakan berita yang sangat tidak baik, karena nantinya apabila Indonesia tidak menjadi negara agraris maka Indonesia mau tidak mau harus import barang dari luar negeri untu memenuhi kebiutuhan hidup sehari-hari. Ini sangatlah mengecewakan. Dengan harga yang mungkin akan lebih tinggi dan kualitas yang belum tentu baik. Maka dari itu hargailah petani kita. Dengan membeli produk dalam negeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar